DISCOVER SEMARANG

form

Multiact Creative membuat sebuah video berjudul Discover Semarang. Di video ini kamu  dapat melihat berbagai sudut dan keindahan kota Semarang. Kami mendatangi +- 45 lokasi dan budaya yang ada di kota Semarang. Video ini berisi Hyperlapse, Timelapse, Slowmotion, dan video lainnya.

Saya di project ini sebagai Produser yang mendapat ide dan mengusahakan dana untuk memproduksi video ini. Lalu saya mengajak teman teman saya di Multiact Creative untuk merealisasikannya secara nyata. Berawal dari keresahan kita, kita orang Semarang tapi kita masih bingung, kontribusi kita apa sih ke kota ini, lalu kita coba aja bikin company profile atau video promosi kota semarang gitulah tapi dibuat secara ‘jujur’. seperti, semarang itu kayak gini lhooo, gak selamanya bagus dan gak selamanya buruk juga, hehehe.

Dan juga ketika awalnya liburan semester kita balik ke semarang lalu kita mikir, keren juga ya ternyata Semarang ini, Semarang berasa keren kalo kita ‘tinggalin’, dari situ juga kita berangkat untuk membuat video ini.

Kita kumpulin team Multiact Creative, lalu fix lah kita menunjuk Adul (Abdul Aziz Kurniawan) untuk menyutradarai video ini. Dengan konsep kita godok dengan sedemikian rupa. Menurut saya, konsep yang kita bikin ini berbeda dan sulit di realisasikan. tapi kita berusaha semaksimal mungkin. selain di praproduksi, waktu produksi kita harus menghadapi banyak cobaan, seperti panas nya kota Semarang dan banyak nya titik lokasi yang harus kita ambil menjadi tantangan bagi kru Discover Semarang ini. Kita menghabiskan +- 8 hari Syuting dan ada beberapa footage yang sudah kita dapat sebelum project ini berjalan. Kita mempunyai 1000 stock shot lebih dan harus kita jadikan menjadi durasi 3 menit. Disitulah tantangannya. Tantangan di Post Production menjadi lebih besar, ketika kita pusing dan berusaha untuk menyatukan ribuan shot yg telah kita ambil di lapangan. Editing sendiri diambil alih oleh Abdul Aziz Kurniawan dan musik di kerjakan oleh Fajar Siahaan. Setelah jadi, kita menargetkan untuk masuk ke berbagai festival yang ada di Indonesia bahkan keluar negeri sih kalo bisa hehe…

Sampai saat ini, kita sudah memasukan ke beberapa festival, Seperti Hellomotion, Pekan Film Semarang, dan beberapa festival lain, yang kita kirim Discover Semarang versi short berdurasi 1 menit. Kita masih menunggu hasil 3 menit nya… ditunggu ya 🙂 #DiscoverSemarang.

 

7 Alasan kenapa kamu harus nonton film SITI

7 Alasan kenapa kamu harus nonton film SITI

Halo teman teman, Hari ini sebenernya lagi males nulis, Cuma berhubung hari ini film SITI lagi tayang dibioskop, aku mengajak kalian buat nonton film SITI dibioskop !!! Tau kan kalo 28 Januari 2016 ini film SITI tayang di bioskop. Film arahan Eddie Cahyono ini sudah beberapa kali menyabet penghargaan dari beberapa Festival. Contoh nya Film terbaik Festival Film Indonesia, Penata Musik Terbaik Festival Film Indonesia. Nah ini aku kasih beberapa alasan buat kamu mau relain waktu buat pergi ke bioskop nonton Film SITI ini…

  1. Film ini memang film keren (banget)

Cerita yang ada di SITI sangat sederhana. Tentang gimana tertekannya hidup seorang wanita bernama Siti di pantai parangtritis yang harus menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya jatuh sakit dan tak bisa beranjak dari tempat tidur. Kesederhanaan ini kemudian dieksploitasi dengan maksimal oleh sang sutradara Eddie Cahyono sehingga tercipta suatu film yang sangat kuat baik dari segi visual maupun cara bertutur. Sangat pantes kalo SITI pada akhirnya berhasil menyabet Piala Citra sebagai Film terbaik di Festival Film Indonesia 2015 (by MBDC)

  1. Meraih banyak penghargaan di festival luar negeri dan dalam negeri

Film SITI juga sudah meraih beberapa penghargaan dari Festival luar dan dalam negeri lho. Kemarin heboh banget waktu film ini memenangkan :

  • Piala citra (FFI) sebagai Film terbaik, music terbaik dan skenario asli terbaik.
  • Singapore International Film Festival 2014, Best performance : sekar sari
  • “Asian New Talent Award” Shanghai International Film Festival 2015, Best Scenario, nomine Best cinematography
  • 17th Taiwan International Film Festival 2015, nominasi
  • 23rd Filmfest Hamburg 2015, nominasi
  • Apresiasi Film Indonesia2015, Best Film
  • 19th Toronto Reel Asian International Film Festival 2015, Honourable Feature Mention (menang)
  • 9th Warsaw Five Flavours Film Festival 2015, spcial mention
  • dan beberapa festival lainya.

buat lebih lengkap nya ada nih di cuplikan trailer nya yang agak “sombong” ini hahaha 😀

  1. Film ini low budget tapi kualitas nya sangat bagus

Mungkin kata “film mahal pasti bagus, dan film murah pasti jelek” untuk sementara ini harus disingkirkan dulu, karena kata itu tidak terbukti dari lahir nya film SITI ini. Terlihat dari keseriusan penggarapan film ini, dan juga didukung oleh teknik kamera yang bagus dari Ujel Bausad dan juga music scoring yang bagus dari Krisna Purna.

  1. Karakter dalam setiap pemain sangat kuat

Mungkin ini memang karakter Eddie dalam meng sutradarai pemain. Cerita dan Karakter pemainnya sangatlah kuat, peran SITI sangatlah terasa disini, dan juga Bagas yang memerankan anak kecil, dan juga mertua SITI.

  1. Kamu akan merasakan pelik nya hidup SITI

Hidup siti disini terasa sangat berat sekali, kalian akan merasa dibawa 1 meter dekat siti terus menerus dan ikut merasakan kesedihan, kebahagian dan perasaan SITI.

  1. Kamu akan tertawa melihat tingkah laku Bagas

Bagas adalah anak dari Siti yang masih diduduk dibangku SD. Acting bagas terasa sangat natural dengan tingkah yang kekanak kanakannya yang seperti anak anak kecil lainya. Dia juga sering melihat hal yang ‘tidak bisa dilihat’ tapi itu sangat lucu dibawakan oleh bagas.

  1. Support Film Nasional

Mungkin dengan anda menonton film SITI di bioskop, anda juga turut mengapresiai karya mereka dan mendukung mereka membuat film film berikutnya yang tidak kalah bagus dari film SITI ini.

DAFTAR BIOSKOP PENAYANGAN FILM SITI !!!

12615552_10153319224591931_5549340832453375763_o

Nah kira kira begitulah penilaian saya, buruan nonton ya !!

cerita bikin film: Gantian Kali yaak

cerita bikin film: Gantian Kali yaak

hai hai, gue minggu lalu bikin film nih, bareng kelompok gue, untuk keperluan tugas untuk mata kuliah SUARA II. Nah tentunya aspek yang paling dinilai untuk film ini adalah ‘sound’ nya untuk memenuhi kriteria nilai nya nih disini kami diharuskan membuat film yang ada unsur dialog, musik dan soundfx nya. Nah film ini tuh cerita nya tentang seorang suami istri yang berebut remot tv gitu sih. ide nya gak jauh jauh, cuma dari pengalaman pribadi aja. nah disini gue pengen cerita aja gimana proses pembuatannya. Disini kami memaksimalkan konsep seadanya dan budget seadanya. tapi sebisa mungkin memaksimalkan segi sound nya. karena kita juga masih pusing mikirin tugas penyutradaraan 2. Dan kebetulan gue pegang Sound recordist dan post nya. Oiya, ini kelompok gue kalo lu mau tau :

William (Produser, boomer), Zaid (sutradara), sekar (pimpro, art director), syafiq & Dara (skenario), mamad (dop), ageng (sound recordist, sound design, editor), satrio (clapper).

115058
zaid, sutradaranya (baju putih, tengah) sedang mengarahkan pemain

Untuk talentnya kita memakai teman kampus aja sih, biar ga terlalu repot jg karena waktu itu udah deadline banget. Adhi sebagai BAPAK dan Luna sebagai IBU dan juga kita cuma merekam gambar dengan kamera 7D merk canon dan merekam suara dengan zoom h4n dan mic boom nya. Lumayan sih tantangannya, kita syuting di kampus yang berhadapan langsung dengan gedung yang sedang dibangun. kebayang kan ya … TENG TENG TENG GEDEBUK GUBRAK PYARRRR CREEEENG. Gitu lah ya kira kira suara yang keluar dari gedung itu kalo diistilah in dalam bentuk tulisan. tapi agak bisa diakali pakai selimut atau kain gitu deh untuk nge reduce noise sedikit wkwkwk. agak ngawur memang.

115056
mamad (dop) lagi pegangin boom pole yang lagi dibenerin mic nya sama william (produser, boomer)

alhasil, hasilnya lumayan lah, bisa lumayan jelas suaranya. Trus untuk sound nya gue edit di studio, Kamar nya Fajar. Pake software cubase, disitu gue belajar juga sama fajar gimana cara pake Cubase dan gimana ngepost yang bener. Kenapa di studio fajar ? karena di studio nya sidoy speaker sound nya lumayan bener lah, ketimbang pake headset huehue. Udah duls kali yak tunggu tulisan gue yang lain yak.

Mau tau cerita produksi film gue selanjutnya ? silahkan mampir di Cerita bikin film :

Sinema Sabtu : Tjokroaminoto

Sinema Sabtu : Tjokroaminoto

FFTV IKJ mengadakan screening dan diskusi film yang bernama Sinema Sabtu. Acara ini ada setiap hari Sabtu di Gedung Art Cinema, Institut Kesenian Jakarta. Sinema Sabtu sendiri digawangi oleh IKAFI (Ikatan Alumni FFTV IKJ) dan juga para Mahasiswa dari FFTV IKJ sendiri. Sinema Sabtu memutarkan film setiap minggu nya dengan konsep ” Film Alumni IKJ dan Non Alumni IKJ” yang di putar secara bergantian seminggu sekali. Misal, Minggu ini lulusan dari IKJ, minggu besok kita undangkan non Alumni IKJ, paham kan perumpamaannya, hehe. Acara ini sangat sangat keren, karena disini kita bukan hanya menonton film saja, tetapi kita juga bisa berdiskusi langsung dengan para pembuat film nya.

12088000_429048327292812_7920012331749727331_n
Poster sinema sabtu

Dalam kasus ini kita membahas kejadian tanggal 10 Oktober 2015. Film yang kita undang adalah film Tjokroaminoto disutradai oleh Garin Nugroho.Pada Screeningan ini Sinema Sabtu mengundang beberapa filmmaker nya, yaitu:

Dewi Umaya Rachman (Produser)
M. Nayaka Untara (Produser)
Ipung Rahmat Syaeful (Director of Photography)
Wawan I. Wibowo (Editor)
Allan Sebastian (Art director)

Nb: Namun disini Allan Sebastian selaku Art director nya tidak datang karena berhalangan.

Lanjut yaa, Acara ini dimulai dari pukul 14:00 – 18.00 dengan rundown acara Menonton film Tjokroaminoto berdurasi 160 menit, lalu break selama 15 menit dan dilanjutkan berdiskusi dengan filmmakernya. Film ini di putar di ruangan Sjuman sampai sampai ruangan itu FULL HOUSE, sampe berdempet dempetan, ada yang berdiri dan lain sebagainya. Tapi semua itu tergantikan dengan karena kami semua senang, terhibur dan mendapat banyak pelajaran dari film tersebut. Ditambah Saat break, kita dapat camilan makanan khas pasar yang enaaaak.

12088445_429407567256888_883377841808599275_n
Foto dari facebook IKAFI
  • Lalu setelah break, kita semua kembali ke dalam ruang Sjuman untuk melanjutkan agenda yang udah ada, yaitu sesi diskusi dan tanya jawab. Dengan di Bawakan (baca: MC) oleh ketua IKAFI yaitu mas Indrayanto Kurniawan, acara ini berlangsung dengan ringan dan menarik. Mbak Dewi Umaya dan Mas Naya selaku produser  yang bercerita tentang tahapan proses pembuatan film Tjokroaminoto ini, dan itu membuat saya terkesima dan langsung “ngefans”, karena apa ? Saya melihat dan mendengarkan dia bicara, bahwa statemen dia sudah jelas kalau dia itu produser yang cerdas! bukan hanya produser yang sekedar cari untung, tetapi sekaligus berniat memajukan Film Indonesia. *Plok Plok Plok, Applause*. Dia juga membuat film ini dengan Visi ingin memberi tahu kepada Masyarakat Indonesia, khusus nya anak muda supaya bisa tahu siapa Tjokroaminoto dan gagasan gagasannya.
  • Lalu Mas Naya juga disini sebagai cicit nya Tjokroaminoto bercerita ide pembuatan film ini berawal dari tahun 2011, hingga akhirnya bertemu dengan Dewi Umaya pada tahun 2012 – 2013. Lalu mereka mengumpulkan informasi, riset dan akhirnya dimulailah pembuatan draft 1 yang dibuat hampir 1 tahun.
  • Mas Ipung juga disini bercerita pengalaman terlibat di film ini. Awalnya dia agak minder juga, karena dia belum pernah bekerjasama dengan Garin Nugroho yang bisa di katakan Seniornya dulu di kampus, dan juga Garin biasa memakai DOP luar.  Tapi dia akhirnya bisa membuat melakukannya dengan baik dan memuaskan.
  • Dan juga ada Editor nya, Wawan I. Wibowo. Ini adalah film biopik ke sekian kali nya yang ia edit. Dia bercerita dengan stok footage seperti itu, Film ini bisa diedit lagi menjadi 5 film, karena ada kemungkinan kemungkinan cerita lain yang bisa dibuat.

By the way, Dari diskusi kemarin, saya sebagai mahasiswa puas dan senang sekali karena yang mereka bicarakan didepan adalah ilmu yang mereka tularkan kepada kita. Omongannya sangat berbobot dan juga menghibur. Intinya gitu deh.

Bagi kalian yang belum pernah datang ke Sinema Sabtu. Ayok buruan dateng, Gak bakal nyesel lah pokoknya! Udah yaa… Sekian duluuu dan MAJU TERUS FILM INDONESIA !

Bakal ada Tulisan saya selanjut nya Sinema Sabtu: Jendral Soedirman.

Ditunggu ya.

Sudah semester 3, sudah ngapain aja ??

Sudah semester 3, sudah ngapain aja ??

Gak kerasa kuliah udah masuk semester 3 aja. Oiya bagi yang belum tau gue kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) fakultas film dan televisi. Di kampus ini gue belajar bikin film dari Developmen sampai Eksebisi dan Distribusi. Susah susah gampang sih bikin film. Tapi bikin film itu emang nyenengin kok bro. Jangan kapok deh pokok nya. Oh iya lanjut deh, Balik lagi, gue sekarang udah ngapain aja nih di IKJ sampe semester 3 ini ??? ngomong ngomong, “ngapain aja” ini gue omongin hal positif aja ya, misalnya ya bikin film. kalo ngomong negatif pasti banyak deh.

Semester 1

Baru 2 atau 3 hari kuliah ada semacam bimbingan dan wejangan dari dosen. kalau jangan kebanyakan ambil job diluar kalau pengen kuliah tertata. Denger kata itu gue teguhin gue pengen serius kuliah dulu. Tiba tiba malem hari nya ada yang nelpon gue dan ternyata ada callingan suruh bikin Video dokumentasi travelling gitu. Yaudah karena angka nya lumayan ya gue ambil .

ini video pertama gue semenjak kuliah IKJ.

 

Masih di semester pertama, gue bikin film tugas workshop visual.Ini film tugas pertama gue di kampus ini.  Ditugas ini gak diperbolehin pake dialog dan pake movement (termasuk panning, tilt up/down). Kita Syuting di dalem kampus aja. Budget gak lebih dari 15 rb paling. Talent temen sekelas, Kamera Temen, Editing di rumah kelompok gue. Hehe tapi jadi juga.

Ada juga Film workvis ke 2, Tapi film nya gak gue upload. Jadi intinya di semester 1, Gue disuruh bikin Film Workshop visual 2 film. Untuk uts dan untuk UAS.

12179054_1109839022367554_1937599591_nSuting penyutradaraan Iky

12170614_1109838919034231_233282774_nNge sound juga *Harus multitalent*

Semester 2

Di semester 2, Gue udah tau gue mau kemana di film. Gue lebih memantapkan diri jadi anak Produksi (baca: Produser) jadinya banyak di calling ngebantuin syuting Penyutradaraan I temen temen. ada beberapa syutingan temen yang gue bantuin. Ada punya Syafiq berjudul Permainan, Andreas berjudul So Bakso, Adan berjudul Sepatu Yono dan film iky lupa judulnya. Ada juga film TA nya Kak Lintang yang gue bantuin, Good News Bad News.

12170744_1109839032367553_1858811838_nSyuting TA senior.

Gue juga bikin film penyutradaraan 1. Gue sebagai sutradara disini. Karena disuruh bikin film love story, gue bikin cerita love story, tapi gue bikinnya pengen ada shot tentang makanan. Yaudah, gue matengin konsep dan Syuting. Tiba tiba film nya udah jadi.

Selain di syuting di kampus, lumayan banyak juga job job an gue diluar. masih lumayan “rame” lah semester 2 job annya. huehue. Ayo dong calling lagi.

Semester 3

Belum ada syuting, tapi udah di calling aja ngeproduksiin beberapa film buat Penyutradaraan II, Praktika dan TA.

ngomong ngomong udah pagi nih, siap siap ke kampus dulu kalii ya. Byee…

Film Style Battleship potemkin

Film Style Battleship potemkin

Film Style

 

Sinematografi

 

Saya tertarik dengan sinematografi di film ini. Sergei Eisenstein selaku sutradara membedah adegan menjadi beberapa shot (decoupage) sehingga menjadikan shot nya terasa banyak dan tidak terlalu membosankan. Salah satu kekuatan di film ini adalah decoupage nya yang kuat. Dia juga membuat pengulangan dalam beberapa shot untuk menggaris bawahi atau mempertegas suatu shot untuk hal hal tertentu. Ditambah dengan continounity nya yang sangat halus, terasa tidak jumping menjadikannya gambar ini terasa hidup.

Banyak angle camera yang bagus, sudah menggunakan Low Angle, High Angle, eye level. Shot shot nya disinipun beragam, terlihat padat, dan ada juga terlihat wide. Shot shot yang di ambil disini mayoritas still, tetapi hal itu menarik karena adanya decoupage yang sudah saya jelaskan di atas tadi, dengan ada nya banyak shot dan pengulangan menjadikan film ini tidak bosan bosan nya di tonton.

 

Difilm ini walaupun hitam putih, mereka tidak melupakan pencahayaan (Lighting). Lighting di film ini sangat bagus, menunjang realitas di film ini sehingga terkesan seperti asli nya, terutama untuk menggambarkan cahaya matahari di dalam kapal, menjadikan orang yang di shot (didalam kamera) terlihat menjadi ada 2 sisi, yaitu terang gelap. Kontras di film ini tidak terlalu tinggi, dan lebih focus ke gambar gambar yang kualitas nya bagus dan detail nya “apik”.

 

Mise En Scene

 

Kebanyakan kebutuhan mise en scene di film ini cuma untuk kebutuhan sesuai cerita saja, tidak ada eksplorasi yang berlebihan yang ingin di tunjukan sutradara nya. Kecuali dalam hal pemanfaatan set dengan melibatkan banyak orang atau (figuran). Untuk pencahayaan, saya suka seperti yang saya jelaskan di atas, ada Keylight dan fill light yang menunjang emosi dan arti dalam film ini. Untuk Point of Interest kebanyakan di letakan di tengah tengah frame, tidak terlalu menggunakan Rule of Third kalau di film ini. Dan juga untuk point of interest, disini juga memanfaatkan bentuk (shape) yaitu dengan bangunan yang lebih besar atau benda yang lebih besar. Misalnya tembok, kapal, layar kapal. Untuk make up dan wardrobe , hanya sesuai dengan kebutuhan realitas, hanya menggambarkan rakyat, mariner, dan lain lain. Tetapi ada juga yang menarik yaitu dalam pewarnaan bendera yang berwarna merah itu juga menjadi hal menarik, karena pada jaman itu masih menggunakan black white. Properti yang digunakan sama seperti realita yang ada di kapal kapal atau kejadian sehari sehari di kapal.

 

Editing

 

Film film rusia (uni soviet) terkenal dengan montage rusia. Sergei Eisenstein sediri menggunakan beberapa teknik ciptaannya yaitu Rythmic Montage.

Teori ini lebih melibatkan hampir seluruh aspek film secara menyeluruh karena selain pemotongan berdasarkan waktu. Cutting point disini sangatlah halus sekali membuat penonton merasa nyaman dan tidak resah karena film yang tiba tiba cutting tidak enak. Dan juga continounity di film ini sangat lah bagus hal itu disebabkan Cutting point yang bagus itu tadi. Juga aspek komposisi visual, pengaturan mise en scene, screen direction bahkan suara juga sangat diperhatikan dalam pemotongannya.

 

Suara

Film ini tidak menggunakan dialog dalam penuturannya, tetapi masih tetap menggunakan music. Musik dalam film ini sangat lah berfungsi dan membantu sekali, seperti gambar kalau tidak sanggup menjelaskan, gambar tidak efisien dan tidak efektif, Suara disini juga menunjang mood, suasana atau perasaan dan juga suara menunjang realitas walaupun hanya suara tembakan saja difilm ini. Adegan adegan pun dibangun dengan menggunakan music music yang di lantunkan di film ini, dan juga sangat merasuk ke film ini. Misal suasana sedang tegang, music berubah menjadi cepat dan ramai sesuai mood menjadi tegang.

Breathless – french new wave

Breathless – french new wave

GERAKAN SINEMA

Gerakan sinema baru new wave atau gelombang baru yang muncul pasca perang tahun 1950-an membuat banyak sineas-sineas baru muncul. Memasuki periode ke 1960-an adalah masa keemasan kedua bagi sejarah film dunia. Sinema gelombang baru perancis adalah pelopor dari sebuah tren gerakan sinema anak muda di seluruh dunia, serta generasi baru pasca perang II.

French new wave dipelopori oleh nama-nama seperti Francois Truffaut, Jean-Luc Godard, Claude Chabrol, Eric Rohmer Dan Jacques Rivette. Orang-orang tersebut adalah kritikus muda yang masing-masing memiliki visi personal sehingga film-film mereka memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Tidak puas dengan sekedar melakukan kritik mereka akhirnya memproduksi film dengan pengetahuan akan sinema yang diketahui masing-masing dan saling membantu satu sama lain sehingga mereka bisa melahirkan karya unik seperti breathless yang disutradarai oleh jean-luc godard. Film tersebut mampu mendapatkan pengakuan internasional hingga gerakan new wave ini tidak hanya sekedar berpengaruh diperancis namun menyebar keseluruh eropa dan penjuru dunia.

Film new wave secara umum memiliki karakteristik yang khas seperti, penggunaan kamera tangan ala dokumenter, budget produksi yang minim menggunakan skrip kasar, kru film sedikit, penggunaan aktor amatir, mengambil lokasi yang sesungguhnya dan mereka bekerja diluar industri film mainstream.

Dalam film breathless godard memakai tema kriminal sederhana dengan mengambil lokasi syuting di jalanan, kafe dan apartemen di kota paris. Godard hanya menggunakan pencahayaan seadanya yang terdapat pada lokasi syuting. Ia juga terkadang membiarkan pemainnya untuk berimprovisasi dengan dialognya. Godard juga menggunakan gaya editing khasnya, jump cut hingga membuat breathless menjadi film yang sangat unik dan menjadi bahan perbincangan para pengamat film dimana-mana

Sinema new wave adalah sebuah reaksi atas bentuk sinema lama atau sinema sebelum gerakan tersebut lahir. Sinema ini hadir karena kritik atas beberapa pendahulu dalam sinema tradisi kualitas di sejarah perfilman perancis, serta usaha perlawanan terhadap sistem produksi yang ketat dan mengikat.

 

 

 

 

 

 

FILM FORM

Bentuk film Breathless ini adalah film naratif yang linier, karena konsep penceritaannya berlangsung/berjalan secara terus menerus sehingga hanya menginformasikan satu tema saja atau tidak tematik (banyak plot yang terjadi). Film ini memiliki unsur sebab-akibat yang jelas dilihat oleh kita. Karena michelle mungkin seorang yang tidak realistis dan terinspirasi dari Bintang film favoritnya yang memainkan peran seorang gengster, dia meniru karakter pemain itu dengan mencuri mobil, akibatnya dia dikerjar polisi dan menembak polisi lalu menjadi buronan polisi. Screen duration di film ini berlangsung secara 1 jam 30 menit. Dengan story duration berminggu minggu karena rangkaian urutan peristiwa dari mencuri mobil, melarikan diri, bersembunyi dan lain lain. Storyspace film ini termasuk beragam, karena banyak yang menggunakan ruang yang luas seperti alam yang luas, landscape kota dan juga padat misal seperti di kamar dan didalam ruangan. Alur penceritaannya dibuat oleh Godart lebih jelas dan mudah dipahami oleh penonton, sehingga pesan nya mudah dipahami oleh penonton.

Film ini memiliki pembukaan karakter yang jelas dengan kita diperlihatkan langsung karakter utama dari film ini dan juga beberapa karakter yang akan membangun cerita di film ini. Secara ending, ending yang didapatkan oleh kita adalah sad ending, dimana sang karakter utama, Michel, mati oleh tembakan seorang polisi di tengah-tengah jalan. Kejadian yang menimpa Michel juga termasuk sebuah elemen surprise yang tidak diantisipasi oleh penonton sebelumnya.

Secara struktur, karakter Michel digambarkan sebagai orang yang gegabah dan ceroboh tanpa bisa mengatasi masalah yang didpatkan dari perbuatannya. Michel melakukan semua perbuatannya selain karena memang dia miskin, dia juga melakukan perbuatannya karena terinspirasi oleh seorang pemain film yang bermain di film-film gangster.

Struktur dramanya cenderung meningkat sebab disaat terjadi sebuah kejadian penting, tempo cerita film ini menjadi lebih cepat. Semuanya mencapai sebuah klimaks tak kala Michel akhirnya ditangkap oleh polisi setelah diberitahu oleh Patricia.

 

FILM STYLE

Unsur mise en scene dalam film tersebut :

  1. Setting adalah seluruh latar bersama benda-benda yang ada di dalamnya (properti) , fungsi setting sebetulnya banyak tetapi yang paling spesifik memberikan informasi ruang , informasi waktu dan properti .

Menurut saya di dalam film ini ,terdapat beberapa setting saya mengamati

  • Disebuah perkotaan dengan latar gedung – gedung , toko , restoran dan jalan raya dengan kendaraan mobil dan truk barang yang berada di sekitarnya. Adegan michael menghampiri wanita kemudian masuk ke mobil kemudian dia pergi .status sosial menurut saya menengah dengan pekerjaannya yang kriminalis dan seorang wanita yang menjadi jurnalis , waktu di disini siang hari .
  • Di dalam mobil dengan latar kondisi mobil klasik kemudian adegan michael menyetir dan merokok kemudian tangan kanan nya mengambil pistol dan menembakan ke kaca mobilnya , kondisi waktu siang hari sebab pencahayaan matahari masih terang .
  • dipinggir jalan dengan adegan Michael menembak polisi dari samping mobilnya .
  1. Kostum adalah segala sesuatu yang melekat secara konsisten pada tokoh

Menurut saya di dalam film ini ,ada beberapa kostum yang saya amati

  • Kostum michael dengan jas , kemeja , dasi , kacamata dan topi menunjukan bahwa dia seorang yang terobsesi sbg seorang kriminal karena kacamata dan topi nya membantu dia untuk menyamar .termasuk kelas sosial menengah karena dia seorang kriminalis , di lihat dari dia suka mencuri , dan membunuh polisi .
  • Kostum Inspector di dalam film ini adalah jas , topi , dasi dengan pakaian rapi formal , dengan tokoh ajudan atau bawahannya yang selalu berdiri di belakangnya.
  • Kostum penjaga resepsionis adalah jas , kemeja , dasi kupu-kupu dengan pakaian resmi .
  1. Make up adalah tata rias dalam film terutama pada tubuh tokoh termasuk wajah

Menurutsaya di dalam film ini ,semua menggunakan make up natural seperti pada umumnya .

  1. Gerak dan ekspresi figure

Menurut saya dalam film ini , menggunakan2 gerakan walk away dengan contoh adegan inspektur berjalan menuju resepsionis dengan membelakangi kamera dan walk in dengan contoh adegan patricia naik eskalator menuju atas dan menghadap kamera .

 

CINEMATOGRAPHY

Di dalam film ini menggunakan film stock 16mm , sering menggunakan kontras tinggi dan brightness rendah . Warna di film ini hitam putih yang menunjukan film lama atau masa lalu .

di dalam mobile framing di dalam film ini menurut saya menggunakan Pan ( panoramic ) karena gerak kamera bisa bergeser ke kiri dan kanan .

Framing di film ini menggunakan Aspek ratio 1.33:1 adalah academy standar dalam film

Sudut pengambilan gambar / Camera Angle dalam film ini saya mengambil beberapa gambar di film ini :

  1. high angle : Tinggi mata tokoh /suatu benda lebih rendah dari lensa kamera
  2. Eye level : Tinggimata tokoh / suatu benda di anggap sejajar dengan lensa kamera.
  3. Low angle : Tinggi mata tokoh / suatu benda lebih tinggi dari lensa kamera

 

TYPE OF SHOT

Long Shot / Wide Shot : Untuk menginformasikan lingkungan (ruang kejadian tokoh).

Two shot : Di dalam frame terdiri dari dua orang .

Three Shot : Di Dalam frame terdiri dari tiga orang .

Four Shot : Di dalam frame terdiri dari 4 orang .

Group shot : Di dalam gambar terdiri dari lebih 4 orang .

 

Lighting di dalam film ini menurut saya menggunakan available light sebab itu kebanyakan berada di out door dan ketika di kamar ti perlihatkan cahaya atau sumber pencahayaan dari jendela, tetapi tidak menutup kemungkinan juga pada saat indoor di kamar juga menggunakan bantuan lighting untuk mendukung supaya lebih terang.

 

ASPEK SUARA

  1. pitch (tinggi rendah suara)

Di dalam film ini penggunaan pitch terdapat pada adegan ketika micel dan patricia di kamar terdapat suara klakson mobil yang tinggi .

  1. Loudness ( kuat – lemah suara)

Di dalam film ini aspek suara loudness begitu terasa ketika suara motor polisi terdengar lemah saat jauh dan terdengar kuat ketika sudah mendekat .

  1. Timbre

Di dalam film ini menggunakan aspek suara timbre begitu banyak macamnya , menurut saya suara disini di mix dalam satu ruang dan waktu seperti suara klakson , suaraa mobil , pejalan kaki pada jalan raya .

Unsur –unsur suara :

  1. speech
  2. dialog di dalam film terdapat banyak dialog , seperti adegan micel berbicara dengan patricia di dalam kamar , kemudian di mobil .
  3. effect suara

Di dalam film ini menggunakan banyak suara , seperti suara klakson , suara pejalan kaki , telepon berbunyi . di dalam room tone seperti suara radio , kemudian suara atmosfer seperti udara dan angin .

  1. musik

Di dalam film ini terdapat musik dalam adegan micel masuk ke mobil kemudian berjalan .

Fungsi Suara :

  1. Realitas

Di dalam film ini fungsi suara kebanyakan sebagai realitas , seperti orang berjalan , berbicara menunjukan keadaan yang nyata .

  1. Pembentuk ruang

Di dalam film ini suara sebagai pembentuk ruang seperti suara mobil dan klakson mobil menunjukan bahwa itu di jalan raya .

  1. Pembentuk suasana dramatik

Menurut saya di dalam filmini menggunakan musik” dengan tempo yang begitu cepat sehingga mampu membuat penonton panik .

Dimensi Suara :

  1. Ritme

Di dalam film ini terdapat ritme dengan adegan michel lari kemudian terdapat music dengan beat cepat sehingga membuat tempo menjadi cepat .

  1. Fidelity

Penggunaan suara di dalam film ini tepat sesuai kenyataan seperti suara kaki berjalan , manusia berbicara , orang memegang gagang telfon .

  1. Waktu

Dalam film ini menggunakan synchronoussound dimana suara sesuai dengan gerak mulut subjek, kemudian penggunaan asynchronous sound dalam film ini.

  1. Ruang
  2. Diegetic Sound

Di dalam film ini seperti adegan micel berbicara dengan resepsionis , sebab sumber suara terlihat dilayar dan berhubungan dengan cerita .

  1. Non diegetic Sound

Di dalam film ini seperti adegan micel naik mobil , namun terdapat suara musik sehingga sumber suara tidak terlihat di layar dan tidak berkesinambungan .

KONSEP EDITING

  1. Dimensi grafis :

Dimensi Temporal :

Di dalam film ini menggunakan time overlapping karena di beberapa shot ini mengulang dimensi waktu siang hari dengan berbagai macam shot dengan ruang yang berbeda .

  1. match cut :

Menrut saya Di dalam film ini menggunakan metode match cut dengan alasan shot ke dua masih terdapat elemen wajah pada shot pertama .

  1. Cut away

Di dalam film ini menggunakan metode cut to cut dengan mempergunakan cut away , alasan saya shot kedua dalam film ini tidak ada kesinambungan elemen dengan shot pertama meskipun di dalam realitanya shot pertama micel sedang mengendarai mobil dan patricia duduk di sampingnya .

  1. Optical efect
  2. Dissolve , di dalam film ini menggunakan metode efek dissolve alasan saya karena pada shot pertama menuju shot ke dua secara gradual akan menghilang dengan efek bayangan antara shot satu dengan dua .
  3. fade , alas an saya mengapa film ini menggunakan optical effect Fade karena perpindahan warna dalam shot pertama menuju selanjutnya menjadi terang ke gelap .

 

  1. Wipe: Tidak digunakan dalam film breathless