Breathless – french new wave

Breathless – french new wave

GERAKAN SINEMA

Gerakan sinema baru new wave atau gelombang baru yang muncul pasca perang tahun 1950-an membuat banyak sineas-sineas baru muncul. Memasuki periode ke 1960-an adalah masa keemasan kedua bagi sejarah film dunia. Sinema gelombang baru perancis adalah pelopor dari sebuah tren gerakan sinema anak muda di seluruh dunia, serta generasi baru pasca perang II.

French new wave dipelopori oleh nama-nama seperti Francois Truffaut, Jean-Luc Godard, Claude Chabrol, Eric Rohmer Dan Jacques Rivette. Orang-orang tersebut adalah kritikus muda yang masing-masing memiliki visi personal sehingga film-film mereka memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Tidak puas dengan sekedar melakukan kritik mereka akhirnya memproduksi film dengan pengetahuan akan sinema yang diketahui masing-masing dan saling membantu satu sama lain sehingga mereka bisa melahirkan karya unik seperti breathless yang disutradarai oleh jean-luc godard. Film tersebut mampu mendapatkan pengakuan internasional hingga gerakan new wave ini tidak hanya sekedar berpengaruh diperancis namun menyebar keseluruh eropa dan penjuru dunia.

Film new wave secara umum memiliki karakteristik yang khas seperti, penggunaan kamera tangan ala dokumenter, budget produksi yang minim menggunakan skrip kasar, kru film sedikit, penggunaan aktor amatir, mengambil lokasi yang sesungguhnya dan mereka bekerja diluar industri film mainstream.

Dalam film breathless godard memakai tema kriminal sederhana dengan mengambil lokasi syuting di jalanan, kafe dan apartemen di kota paris. Godard hanya menggunakan pencahayaan seadanya yang terdapat pada lokasi syuting. Ia juga terkadang membiarkan pemainnya untuk berimprovisasi dengan dialognya. Godard juga menggunakan gaya editing khasnya, jump cut hingga membuat breathless menjadi film yang sangat unik dan menjadi bahan perbincangan para pengamat film dimana-mana

Sinema new wave adalah sebuah reaksi atas bentuk sinema lama atau sinema sebelum gerakan tersebut lahir. Sinema ini hadir karena kritik atas beberapa pendahulu dalam sinema tradisi kualitas di sejarah perfilman perancis, serta usaha perlawanan terhadap sistem produksi yang ketat dan mengikat.

 

 

 

 

 

 

FILM FORM

Bentuk film Breathless ini adalah film naratif yang linier, karena konsep penceritaannya berlangsung/berjalan secara terus menerus sehingga hanya menginformasikan satu tema saja atau tidak tematik (banyak plot yang terjadi). Film ini memiliki unsur sebab-akibat yang jelas dilihat oleh kita. Karena michelle mungkin seorang yang tidak realistis dan terinspirasi dari Bintang film favoritnya yang memainkan peran seorang gengster, dia meniru karakter pemain itu dengan mencuri mobil, akibatnya dia dikerjar polisi dan menembak polisi lalu menjadi buronan polisi. Screen duration di film ini berlangsung secara 1 jam 30 menit. Dengan story duration berminggu minggu karena rangkaian urutan peristiwa dari mencuri mobil, melarikan diri, bersembunyi dan lain lain. Storyspace film ini termasuk beragam, karena banyak yang menggunakan ruang yang luas seperti alam yang luas, landscape kota dan juga padat misal seperti di kamar dan didalam ruangan. Alur penceritaannya dibuat oleh Godart lebih jelas dan mudah dipahami oleh penonton, sehingga pesan nya mudah dipahami oleh penonton.

Film ini memiliki pembukaan karakter yang jelas dengan kita diperlihatkan langsung karakter utama dari film ini dan juga beberapa karakter yang akan membangun cerita di film ini. Secara ending, ending yang didapatkan oleh kita adalah sad ending, dimana sang karakter utama, Michel, mati oleh tembakan seorang polisi di tengah-tengah jalan. Kejadian yang menimpa Michel juga termasuk sebuah elemen surprise yang tidak diantisipasi oleh penonton sebelumnya.

Secara struktur, karakter Michel digambarkan sebagai orang yang gegabah dan ceroboh tanpa bisa mengatasi masalah yang didpatkan dari perbuatannya. Michel melakukan semua perbuatannya selain karena memang dia miskin, dia juga melakukan perbuatannya karena terinspirasi oleh seorang pemain film yang bermain di film-film gangster.

Struktur dramanya cenderung meningkat sebab disaat terjadi sebuah kejadian penting, tempo cerita film ini menjadi lebih cepat. Semuanya mencapai sebuah klimaks tak kala Michel akhirnya ditangkap oleh polisi setelah diberitahu oleh Patricia.

 

FILM STYLE

Unsur mise en scene dalam film tersebut :

  1. Setting adalah seluruh latar bersama benda-benda yang ada di dalamnya (properti) , fungsi setting sebetulnya banyak tetapi yang paling spesifik memberikan informasi ruang , informasi waktu dan properti .

Menurut saya di dalam film ini ,terdapat beberapa setting saya mengamati

  • Disebuah perkotaan dengan latar gedung – gedung , toko , restoran dan jalan raya dengan kendaraan mobil dan truk barang yang berada di sekitarnya. Adegan michael menghampiri wanita kemudian masuk ke mobil kemudian dia pergi .status sosial menurut saya menengah dengan pekerjaannya yang kriminalis dan seorang wanita yang menjadi jurnalis , waktu di disini siang hari .
  • Di dalam mobil dengan latar kondisi mobil klasik kemudian adegan michael menyetir dan merokok kemudian tangan kanan nya mengambil pistol dan menembakan ke kaca mobilnya , kondisi waktu siang hari sebab pencahayaan matahari masih terang .
  • dipinggir jalan dengan adegan Michael menembak polisi dari samping mobilnya .
  1. Kostum adalah segala sesuatu yang melekat secara konsisten pada tokoh

Menurut saya di dalam film ini ,ada beberapa kostum yang saya amati

  • Kostum michael dengan jas , kemeja , dasi , kacamata dan topi menunjukan bahwa dia seorang yang terobsesi sbg seorang kriminal karena kacamata dan topi nya membantu dia untuk menyamar .termasuk kelas sosial menengah karena dia seorang kriminalis , di lihat dari dia suka mencuri , dan membunuh polisi .
  • Kostum Inspector di dalam film ini adalah jas , topi , dasi dengan pakaian rapi formal , dengan tokoh ajudan atau bawahannya yang selalu berdiri di belakangnya.
  • Kostum penjaga resepsionis adalah jas , kemeja , dasi kupu-kupu dengan pakaian resmi .
  1. Make up adalah tata rias dalam film terutama pada tubuh tokoh termasuk wajah

Menurutsaya di dalam film ini ,semua menggunakan make up natural seperti pada umumnya .

  1. Gerak dan ekspresi figure

Menurut saya dalam film ini , menggunakan2 gerakan walk away dengan contoh adegan inspektur berjalan menuju resepsionis dengan membelakangi kamera dan walk in dengan contoh adegan patricia naik eskalator menuju atas dan menghadap kamera .

 

CINEMATOGRAPHY

Di dalam film ini menggunakan film stock 16mm , sering menggunakan kontras tinggi dan brightness rendah . Warna di film ini hitam putih yang menunjukan film lama atau masa lalu .

di dalam mobile framing di dalam film ini menurut saya menggunakan Pan ( panoramic ) karena gerak kamera bisa bergeser ke kiri dan kanan .

Framing di film ini menggunakan Aspek ratio 1.33:1 adalah academy standar dalam film

Sudut pengambilan gambar / Camera Angle dalam film ini saya mengambil beberapa gambar di film ini :

  1. high angle : Tinggi mata tokoh /suatu benda lebih rendah dari lensa kamera
  2. Eye level : Tinggimata tokoh / suatu benda di anggap sejajar dengan lensa kamera.
  3. Low angle : Tinggi mata tokoh / suatu benda lebih tinggi dari lensa kamera

 

TYPE OF SHOT

Long Shot / Wide Shot : Untuk menginformasikan lingkungan (ruang kejadian tokoh).

Two shot : Di dalam frame terdiri dari dua orang .

Three Shot : Di Dalam frame terdiri dari tiga orang .

Four Shot : Di dalam frame terdiri dari 4 orang .

Group shot : Di dalam gambar terdiri dari lebih 4 orang .

 

Lighting di dalam film ini menurut saya menggunakan available light sebab itu kebanyakan berada di out door dan ketika di kamar ti perlihatkan cahaya atau sumber pencahayaan dari jendela, tetapi tidak menutup kemungkinan juga pada saat indoor di kamar juga menggunakan bantuan lighting untuk mendukung supaya lebih terang.

 

ASPEK SUARA

  1. pitch (tinggi rendah suara)

Di dalam film ini penggunaan pitch terdapat pada adegan ketika micel dan patricia di kamar terdapat suara klakson mobil yang tinggi .

  1. Loudness ( kuat – lemah suara)

Di dalam film ini aspek suara loudness begitu terasa ketika suara motor polisi terdengar lemah saat jauh dan terdengar kuat ketika sudah mendekat .

  1. Timbre

Di dalam film ini menggunakan aspek suara timbre begitu banyak macamnya , menurut saya suara disini di mix dalam satu ruang dan waktu seperti suara klakson , suaraa mobil , pejalan kaki pada jalan raya .

Unsur –unsur suara :

  1. speech
  2. dialog di dalam film terdapat banyak dialog , seperti adegan micel berbicara dengan patricia di dalam kamar , kemudian di mobil .
  3. effect suara

Di dalam film ini menggunakan banyak suara , seperti suara klakson , suara pejalan kaki , telepon berbunyi . di dalam room tone seperti suara radio , kemudian suara atmosfer seperti udara dan angin .

  1. musik

Di dalam film ini terdapat musik dalam adegan micel masuk ke mobil kemudian berjalan .

Fungsi Suara :

  1. Realitas

Di dalam film ini fungsi suara kebanyakan sebagai realitas , seperti orang berjalan , berbicara menunjukan keadaan yang nyata .

  1. Pembentuk ruang

Di dalam film ini suara sebagai pembentuk ruang seperti suara mobil dan klakson mobil menunjukan bahwa itu di jalan raya .

  1. Pembentuk suasana dramatik

Menurut saya di dalam filmini menggunakan musik” dengan tempo yang begitu cepat sehingga mampu membuat penonton panik .

Dimensi Suara :

  1. Ritme

Di dalam film ini terdapat ritme dengan adegan michel lari kemudian terdapat music dengan beat cepat sehingga membuat tempo menjadi cepat .

  1. Fidelity

Penggunaan suara di dalam film ini tepat sesuai kenyataan seperti suara kaki berjalan , manusia berbicara , orang memegang gagang telfon .

  1. Waktu

Dalam film ini menggunakan synchronoussound dimana suara sesuai dengan gerak mulut subjek, kemudian penggunaan asynchronous sound dalam film ini.

  1. Ruang
  2. Diegetic Sound

Di dalam film ini seperti adegan micel berbicara dengan resepsionis , sebab sumber suara terlihat dilayar dan berhubungan dengan cerita .

  1. Non diegetic Sound

Di dalam film ini seperti adegan micel naik mobil , namun terdapat suara musik sehingga sumber suara tidak terlihat di layar dan tidak berkesinambungan .

KONSEP EDITING

  1. Dimensi grafis :

Dimensi Temporal :

Di dalam film ini menggunakan time overlapping karena di beberapa shot ini mengulang dimensi waktu siang hari dengan berbagai macam shot dengan ruang yang berbeda .

  1. match cut :

Menrut saya Di dalam film ini menggunakan metode match cut dengan alasan shot ke dua masih terdapat elemen wajah pada shot pertama .

  1. Cut away

Di dalam film ini menggunakan metode cut to cut dengan mempergunakan cut away , alasan saya shot kedua dalam film ini tidak ada kesinambungan elemen dengan shot pertama meskipun di dalam realitanya shot pertama micel sedang mengendarai mobil dan patricia duduk di sampingnya .

  1. Optical efect
  2. Dissolve , di dalam film ini menggunakan metode efek dissolve alasan saya karena pada shot pertama menuju shot ke dua secara gradual akan menghilang dengan efek bayangan antara shot satu dengan dua .
  3. fade , alas an saya mengapa film ini menggunakan optical effect Fade karena perpindahan warna dalam shot pertama menuju selanjutnya menjadi terang ke gelap .

 

  1. Wipe: Tidak digunakan dalam film breathless

 

 

 

 

 

 

Iklan

Film Form and Film Style Rome Open City

Film Form and Film Style Rome Open City

Film Form

Film ini memiliki bentuk penceritaan yang naratif dengan hubungan sebab akibat yang jelas dan juga terjadi dalam ruang waktu dan tempat yang jelas pula, sebagai contoh keikutsertaan Don Pietro, si pastor, dengan kelompok pemberontak berujung pada penangkapan dan pengeksekusian dirinya sendiri oleh para tentara. Secara space, Rome, Open City memiliki setting tempat di kota Roma di Italia (story space) dengan setting waktu pada saat perang dunia kedua sedang terjadi dengan adanya petunjuk berupa pasukan-pasukan Nazi Jerman yang berpatroli disana. Cerita yang ada memiliki urutan waktu yang linear alias terus berjalan tanpa adanya flash back atau flash forward. Sedangkan untuk durasi waktu, Rome, Open City memiliki durasi layar selama satu setengah jam dengan durasi cerita yang sebenarnya terjadi selama beberapa hari. Film ini memiliki cerita yang progresif dengan semakin besar resiko yang harus dihadapi oleh para pemberontak seiring perlawanan mereka terhadap Nazi dan polisi-polisi yang mendukungnya. Rome, Open City juga memiliki ending yang buruk atau sad ending dengan Don Pietro yang akhirnya di eksekusi dengan tembakan pistol oleh seorang perwira Nazi didepan publik

 

Film Style

Pada awal film ini banyak shot shot establish yang menampilkan lanskap kota roma pada saat itu, ada juga movement kamera seperti panning. Memuat penonton menjadi tidak bosan dengan gambar gambarnya.

Shot shot yang diambil kerap mengambil portrait seseorang atau lebih. Framing yang dihasilkan di film ini juga cukup beragam, karena penggunaan lensa yang beragam , yatu wide normal dan juga padat( lensa tele /mm nya panjang). Dengan menggunakan lensa wide mempunya ruang tempat yang lebar, seperti saat shot lanskape. Dan juga shot menggunakan lensa tele mengakibatkan gambarnya (room space) menjadi lebih padat. Point of interest yang selalu ditampilkan difilm ini selalu diletakan ditengah tengah frame, seperti tidak menggunakan Rule of third. Kecepatan film yang dipakai di film ini yaitu 24fps menjadikan gerak gambar sama seperti kenyataannya.

Kebanyakan kebutuhan mise en scene di film ini cuma untuk kebutuhan sesuai cerita , artistic, dramatic, penggunaan seragam atau pakaian memang sudah tepat sesuai pada jaman saat itu. Dan juga kebutuhan property sudah mencukupi dan mendukung cerita dan artistic di film ini. Cahaya yang dihasilkan di film ini sedikit low contras pada bagian awal awal film dan menjadi high contras di pertengahan hingga akhir film.

Rome, Open City memakai banyak teknik editing didalamnya. Salah satu teknik yang ada disana adalah paralel editing dimana dua shot ruangnya berbeda tetapi terjadi dalam waktu yang sama sedang terjadi, dengan contoh pada bagian-bagian awal film disaat seorang tentara Nazi sedang melakukan pembicaraan melalui telepon dengan seorang wanita. Ritme editing yang ada di film ini mayoritas konstan dengan durasi setiap shot yang hampir sama, kecuali disaat terjadi adegan-adegan yang sedang “intens” dimana ritme terlihat sedikit dipercepat dengan durasi shot yang dipakai lebih pendek dari biasanya. Hasil teknik-teknik editing yang dipakai membuat waktu kejadian yang ada di film menjadi lebih pendek/sebentar daripada sebenarnya.

Secara suara, Rome, Open City banyak berisikan dialog-dialog antar dua tokoh atau lebih dan juga menjadi salah satu faktor dominan yang ada di film ini. Efek suara banyak muncul / terdengar di film ini dengan suara-suara perabotan, dan lain-lain yang juga menambah dimensi suaranya. Musik juga dipakai di film ini yang berperan sebagai membentuk suasana dan efek dramatis film ini ntuk disaat terjadi adegan-adegan penting.

 

 

Film form and Film style Trip to the moon

Film form and Film style Trip to the moon

Trip To The Moon

Film Trip to the moon disutradarai oleh Melies pertama dirilis pada tahun 1902. Sang pionir film ini menurut membawakan film yang menghibur dan berbeda dari sebelumnya. Dengan basic teater dan pesulap dia pandai menghibur audience nya supaya tidak bosan. Dengan konsep teater yang dibawakan ke film ini, ini menjadi film fiksi pertama yang menerapkan konsep mise en scene.

Dan di tugas ini mengidentifikasi Film Form dan Film Style sebagai berikut :

  • Film Form (Bentuk)

 

Pada awalnya ada sekelompok orang yang menurut saya itu adalah ilmuwan yang sedang berkumpul. Mereka memperbincangkan hal dan memperdebatkannya, ada 1 pimpinan yang menjadi “coordinator atau ketua” nya disitu. Ternyata mereka meributkan teori dan cara mempraktekkan untuk pergi ke bulan. Setelah itu mereka semua setuju dan berganti baju bersiap siap untuk membikin kapsul, eh bukan.. pesawat jet ceritanya itu hehe. Setelah jadi pesawat tersebut di dorong oleh banyak perempuan . lalu jet di nyalakan atau lebih tepatnya di nyalakan seperti kembang api lalu meluncur ke bulan. Setelah sampai di bulan para ilmuwan tersebut beristirahat dan memimpikan memimpikan hal hal lucu, seperti membayangkan planet. Lalu turun salju dll. Lalu para ilmuwan tersebut masuk ke dalam ke goa untuk menelusuri bulan.tiba tiba ada seorang ilmuwan menancapkan payung ke dekat jamur lalu menjadi jamur dan bertumbuh dengan cepat.Lalu datang lah alien untuk menyerang para ilmuwan tersebut. 1 alien mati dengan sekali pukul. Lalu munculah temannya alien ini dengan sangat banyak dan mereka di tawan lalu dihadapkan ke pimpinan alien mereka. Setelah sampai ruangan pimpinan alien, para ilmuwan ini membantai hanya sekali dijatuhkan saya lalu kembali ke pesawat jet nya untuk balik lagi ke bumi, para alien tersebut mengejar ngejar dan ikutlah 1 alien jatuh dari bulan..

Setelah sampai bumi , para ilmuwan tersebut berenang dan kembali ke bumi dengan sambutan yang meriah oleh masyarakat. Para ilmuwan mendapatkan penghargaan dan munculah 1 alien yang ikut jatuh ke bumi tadi.

Karakter karakter dalam film ini adalah :

–           Para ilmuwan

Selalu berusaha mewujudkan keinginan mereka pergi ke bulan, kompak terhadap sesame dan tidak putus asa untuk tetap ke bulan dan juga kembali.

–           Alien

Resek dan tidak suka diganggu oleh pengunjung / mahluk lain.

 

  • Explicit Meaning

Ribut rebut dan berdebat sesame ilmuwan

  • Implicit Meaning

Merumuskan dan memecahkan masalah tentang tujuan mereka yang ingin berkunjung ke bulan. Musyawarah dan akhir nya semua mufakat atau setuju.

 

 

  • FILM STYLE (Gaya)

 

  • Sinematografi

Kebanyakan film ini memakai one shot saja dengan angle yang flat . dengan gambar yang hitam putih film ini tetap berwarna dengan banyaknya background yg bermacam macam sehingga tidak monoton dan reaksi yang tidak membuat penonton bosan. Walaupun minim teknis tetapi pada saat editing continounity pengambilannya sangat rapi tidak terlalu jumping.

 

  • Mise En Scene

Melies basic nya memang sutradara teater, sehingga banyak menggunakan property / artistic dalam film nya itu mengapa menggunakan one shot. Property yang digunakan sangat bermacam macam. Mulai dari melukis background ,membuat pesawat jet, bulan dll. Secara artistic saya akui jempol di film ini karena membuat film ini menjadi pionir dalam mise en scene.

 

  • Editing

Film ini membuat saya terkesan karena menggunakan teknik cutting yang enak dalam membunuh alien, dsb. Dan juga mem “blending” shot 1 dengan yang lain dimaksudkan memberi visual efek di film ini. Film pada tahun 1902 tetapi menggunakan visual efek. Menurut saya keren sekali.

 

  • Suara

Sama seperti film film lainnya pada zamannya, di zaman pembuatan film ini tidak ada alat yg mampu merekam suara dengan baik, sehingga suara dalam film ini hanya menyuguhkan music saja. Seperti biasa, music yang di pakai bisa dibilang cocok dengan yang ada di visual / gambar secara emosi nya.

Film form and Film Style Bicycle Thief

Film form and Film Style Bicycle Thief

BICYCLE THIEF

Film Bicycle Thief disutradarai oleh Vittoria De Sica pertama dirilis pada tahun 1948 (Italy). Film ini menurut saya sangat ringan dan mudah di pahami walaupun dikemas hanya dengan durasi 90 menit. Walaupun ringan tetapi film ini tetap berisi dan bermutu, penonton dibawa masuk kedalam cerita sehingga penonton merasa terbawa suasana.

Dan di tugas ini mengidentifikasi Film Form dan Film Style sebagai berikut :

  • Film Form (Bentuk)

 

Pada dasar nya film ini bercerita dikota Roma, Italia. Tentang seorang Ayah bernama Antonia Ricci yang pengangguran dan baru mendapat kerja. Antonio diterima kerja sebagai orang untuk memasang poster. Tetapi di syaratkan untuk mempunya sepeda sebagai syarat kerja.

Lalu Antonio pulang dan cerita kepada Maria, istrinya dan frustasi akan syarat itu dan pesimis. Lalu istrinya di rumah mencuci seprei kasur lalu dijual ketempat barang bekas. Setelah mendapat uang dari hasil situ Antonio membeli sebuah sepeda bekas di toko. Keesokan ia memulai bekerja dan mengantarkan anaknya yang juga bekerja sebagai pengisi bahan bakar minyak. Lalu dilanjutkan Antonio bekerja memasang poster poster, setelah memasang beberapa poster, Antonio lengah dan sepedanya di curi oleh komplotan orang. Lalu ia mulai mengejar dan tidak menemukan siapa pencurinya. Ia lalu meminta tolong ke atasan tempat kerja nya dan hasilnya tetap nihil. Dicari cari ke tempat bengkel sepeda juga tidak ada. Lalu diketahui saat hujan ia melihat ada orang muda yang mencurigakan dikira pencuri sepeda tersebut. Dan dikejar oleh Antonio dan Bruno, anaknya. Setelah gagal mengejar, lalu dikejarlah orang tua itu. Setelah didapati orang tua itu digereja lalu orang tua itu kabur lagi.

Lalu dijalan bertemulah Antonio dan Bruno kepada pencuri muda itu setelah diberi tahu lokasi nya dari Kakek tua yang ia buntuti di gereja. Lalu setelah didesak tetap tidak mengaku, lalu pemuda itu sakit dan Antonio menjadi terpojokkan dan bingung. Ia melihat orang mondar mandir membawa sepeda layaknya ingin memiliki nya sepedanya lagi. Dan ia menyuruh anaknya pulang, lalu munculah kesempatan dalam kesempitan, Antonio melihat ada sepeda yang tidak terjaga lalu ia mencurinya. Sang pemilik sepeda mengetahui itu dan mengejar Antonio lalu tertangkat, setelah sudah dipukuli dan dimassa lalu pemilik sepeda melihat Bruno lalu mengiklaskan. Ending Film ini menurut saya terkesan menggantung, apakah Antonio ini mengiklaskan sepedanya atau masih tetap sedih.

Film ini dasarnya mengisahkan perjuangan mencari sepeda Antonio yang hilang, karena sepeda menjadi syarat transportasi untuk ia bekerja. Karena pada masa itu pekerjaan masih langka karena mungkin pada tahun 1948 paska perang dunia ke II Negara masih runtuh dan mulai dibangun.

Karakter karakter dalam film ini adalah :

–           Antonio Ricci

Ayah yang susah payah mencari kerja dan berusaha mempertahankan pekerjaannya dengan mencari sepedanya yang hilang.

–           Bruno Ricci

Anak dari keluarga Ricci, masih kecil tetapi sudah bekerja dan sering membantu ayahnya.

–           Maria Ricci

Istri keluarga Ricci, berjuang demi suaminya, kadang suka kesal dgn suami nya karena belum mendapat pekerjaan.

–           Pemuda Pencuri

Pemuda yang mencuri sepeda dalam film ini, dan sampai film ini selesai tetap tidak mau mengaku kalau dialah pencuri nya.

 

  • Explicit Meaning

Membuntuti kakek tua yang bekerjasama dengan pencuri sepeda di gereja.

  • Implicit Meaning

Disaat membututi kakek, maksud nya adalah untuk mencari tahu dimana pelaku pencuri sepeda tersebut. Dengan alas an menawarkan pekerjaan untuk pencuri tersebut. Karena diketahui di film ini sang kakek terlihat tahu dan kenal dengan pencuri sepeda tersebut.

 

  • FILM STYLE (Gaya)

 

  • Sinematografi

Pertama tama, kualitas gambar yang dihasilkan bagus, walaupun dibuat pada zaman itu. Camera movement nya juga tidak aneh aneh dan sangat sederhana, hanya sedikit yang diperindah gambarnya. Hal ini mungkin saja dimaksudkan film ini “down to earth” dan bisa dinikmati oleh semua kalangan terutama kelas menengah pada saat itu. Sederhana, apa adanya namun cantik dan enak dilihat. Bahasa visual nya pun menarik, menjadikan orang dapat paham ceritanya dan maksud gambar tersebut tanpa ada bantuan suara.

 

  • Mise En Scene

Pada zaman 40 akhir Sepeda adalah kendaraan utama atau yang paling banyak digunakan oleh masyarakat selain menggunakan Bus. Hal ini karena perkembangan teknologi belum maju pesat seperti sekarang ini. Dan juga untuk setting sangat khas sekali Negara Itali pada tahun itu.

 

  • Editing

Dalam film ini menurut saya menggunakan keunggulan ceritanya layaknya Stuktur Hollywood classic. Demi mengutamakan ceritanya dibuatlah editing nya dengan konsep continunity. Tetapi ada beberapa transisi yang digunakan seperti dissolve, cross dissolve, fade in, out. Di film ini dibuat juga dengan tempo lambat, karena dicerita ini dikisahkan perjuangan yang susah dan lama walaupun cuma beberapa hari pencarian.

 

  • Suara

Dalam film ini menggunakan soundspeed 24 fps. Suara dalam film ini terlihat jernih dan jelas, dibuktikan pada saat Karakter karakter di film ini berdialog dan juga atmosir suaranya sangat “pas” untuk didengar. Dan juga bantuan music scoring nya sangat membantu untuk mengatur emosi dalam film ini.

Curcol tentang milih jurusan

url

Saat ini sedang pada galau galau nya Orang yang Pada habis lulus SMP / SMA mau ngelanjutin kemana atau jurusan apa. Pengennya ke SMK tapi jurusan apa ? atau kuliah, milih jurusan itu tapi engga cinta sama jurusan itu. Misal Suka sama Mesin tapi ambil Elektronika. sama kaya Cinta Mesin Nikah nya sama elektronika, gak enak kan.

Itu juga kasus yang saya alami dulu waktu saya sekolah di SMKN 4 Semarang. Sejak SMP Saya lemah di bidang pelajaran dan lebih suka kedunia visual dan programing, makanya saya sadar diri enggak ke SMA, hehe. Aslinya gak suka pelajaran aja wkwk. Awalnya setelah lulus SMP saya ingin melanjutkan ke TKJ (Teknik Komputer Jaringan) karena pengen jadi programmer. karena TKJ adanya di SMK7 dan disana setahu saya nilai nya tinggi tinggi jadi saya mengurungkan niat saya untuk kesana. Dan tersesatlah saya di SMK N 4 Semarang. Saya awalnya tidak tahu sama sekali dengan sekolah ini. asal masuk aja dan memilih jurusan Multimedia. lumayanlah masih ada hubungannya dengan komputer pikirku waktu itu. Setelah masuk kuliah disini dapat banyak teman dari Smp smp lain. skip aja cerita ini, karena terlalu seru hehe.

Lanjut setelah masuk ke SMKN 4 Semarang, eh dibotakin dulu deng seluruh siswanya. kita mengenal multimedia dan dalemannya lah kira2. 1 tahun saya disini saya menyesal. Saya tidak mendapatkan yang saya inginkan. Dari sekolah yang gitu2 aja, Guru yang gitu2 aja kecuali ada 1 guru multimedia yang sampe saat ini masih saya hormati yaitu Ardi Kurniawan. Dia pembimbing yang hebat menurut saya. lanjut lagi setelah 1 tahun menyesal. naik ke kelas 2 dan magang ke percetakan ditambah lagi penyesalan itu, karena sebelumnya saya menginginkan magang tentang Web Design. eh malah magang di percetakan, hehe. Setelah kelas 2 semester . saya pulang ke SMK 4 Semarang karena telah selesai magang. Saya waktu itu masih kecanduan game online, sampai tiba tiba saja entah kerasukan setan dari mana atau dapet ilham dari mana saya “TOBAT” main game online dengan menghapus semua file file di laptop saya yang biasa saya pake main game.

Dan setelah menghapus game itu saya langsung buka microsoft word dan mulai mengetik. Mengetik apa ?? Mengetik cerita dan kepikiran untuk dijadikan film pendek. Mulai dari sini Dunia saya berubah. Saya dan teman teman saya bikin film pendek. Dan dari situlah saya kembali mencintai jurusan saya lagi Yaitu multimedia. Dan bagusnya lagi saya sampai detik ini masih mencintai dunia multimedia terutama film.

Sekarang aku tahu kenapa Tuhan menempatkan saya disini (SMKN 4 Semarang – Multimedia) dan tidak menempatkan saya di SMKN 7 – Teknik Komputer Jaringan. Dia punya rencana yang lebih baik dari “kita” . Mungkin juga kalo aku ke TKJ aku gak bisa kaya sekarang ini, bahagia apa yang saya lakukan.  Dan juga…. kenapa “Dia” menempatkan saya di Percetakan sewaktu saya magang ?
Menurut saya pribadi, Saya bisa berguna dan membantu orang lain dengan membantu Desain desain grafis, Dan juga kadang kadang Gereja juga minta tolong untuk didesainkan.

Akhir kata, Cintai Jurusan yang kamu cintai, bukan yang disukai.

Belajar banyak hal dari membuat film

belajar film

Ada sesuatu hal yang belum pernah aku rasakan selama ini. Yaitu membuat film . Ya saya pertama kali membuat film pendek berjudul “Jomblo Ituu…” pada Maret 2013. Saya turut andil di proses pembuatan film tersebut yaitu sebagai Pembuat Cerita. Saya mengambil cerita nya tidak jauh jauh. yaitu dari pengalaman pribadi / pengalaman para remaja pada umum nya. Syukur nya banyak yang suka, banyak juga yang gak suka, hehe…

sebenarnya ini film pertama kali saya dan teman sekelas saya dulu, hmmm gimana banyak banget kesalahan dan kekurangan. tapi bersyukur dari kesalahan yang kita buat itu jadi pelajaran berharga kita. Jadi, jangan pernah takut berbuat salah. Tapi jangan salah terusan ya.


 

Film yang kedua, berjudul #PRINSIP

hahaha, ini sih film nya ah ga tau ah… saya turut andil di film ini juga sebagai Penulis skenario dan Produser . Ini film nya extrem nih, ngambil take sampe malam malam, artistic gila gila an, budget minim , ceritanya sih dulu nya teman masa kecil, dari SD – SMA mereka selalu ada di 1 sekolah. Awalnya sih kayak temen2 biasa. Tapi lama lama malah jadi suka satu sama lain gitu hehe *like a drama queen* :p

saat ini sih film nya 3/4 jadi … karena file nya ilang !!! kan ANJING !


 

Film ketiga *ini yang saya suka*

Film ketiga yang pernah saya buat yaitu “Mimpi Setinggi Mata Kaki

saya menjadi Sutradara dan Editor di film ini. Film ini bercerita tentang anak SD yang mempunyai cita cita beda dari yang lain. yaitu pergi ke kota. dia berusaha untuk mewujudkan cita cita itu bersama temannya , Budi.

Film ini pada Desember 2013 juga meraih Juara 3 di Festival Film Pelajar Jogja 2013 *syukur* (semoga terus nambah)  dan beberapa nominasi lainnya. Proses  pembuatan film ini sekitar 1 bulan dari development- Praproduksi – produksi – Pascaproduksi hehe…..

( behind the scene )

(trailer )


 

Dari ketiga film di atas, saya belajar banyak hal:

1. Tanggung Jawab

iya, kita harus tanggung jawab dengan pekerjaan kita sebagai kru, tidak seenaknya sendiri. Karena kita disini bekerjasama dengan banyak tenaga kerja lain, kita harus bisa mengendalikan diri sendiri dan tanggung jawab atas pekerjaan kita.

2. Disiplin

kita harus selalu disiplin terutama waktu. Kalau kita telat, syuting pun jadi telat … ingat ” time is money”. Efek domino lah kira2 kira, yang salah satu orang, lainya ikutan kena.

3. Kerjasama

ya jelaslah, ini film kan kerja tim, jadi harus kerja sama. walaupun ada crash itu harus di hindari . perkuat di proses Pra produksi nya (dimatengin)

4. Kerja keras

Iyalah, kalo kerjanya cuma sante sante sama aja gak guna. Apalagi film indie, harus kerja keras.

5. Kompak

Kita saat syuting film bisa dari 5 orang – ratusan orang loh, semua harus satu visi misi. Kalo enggak dilapangan pasti bakal terjadi adu jotos atau adu pendapat, padahal gak harus ada kayak gitu kan ? semua bisa di ‘berantemin’ di pra produksi kok . Berantem beneran juga boleh.

6. Kenalan atau orang baru

Saat kita bikin film biasanya orang nya enggak itu itu lagi kok, kita bisa dapet kenalan baru sekaligus ilmu baru, kita ambil ilmu dari teman baru kita sharing sharing pendapat dan lain lain. kali aja dia calling lu job an kan ntar. huehue.

 

[ Bisa kali calling gue job an 081329913020 ] *promosi terselubung

 

7. Banyak banget belajar dari buat film kok ….

 

Mungkin segini dulu ya bro…

jangan lupa, menonton – melihat – pahami – bikin – evaluasi !!!!